Keberanian Ferry Unardi meninggalkan zona nyaman demi menyelesaikan masalah yang dialami jutaan orang.
Oleh: Pulau Garam Media
Ada satu momen yang hampir selalu hadir dalam perjalanan setiap entrepreneur.
Sebuah persimpangan.
Di satu sisi ada jalan yang aman, penuh kepastian, dan menjanjikan masa depan yang nyaman.
Di sisi lain, ada jalan yang dipenuhi ketidakpastian, risiko, dan kemungkinan gagal.
Pada usia 23 tahun, Ferry Unardi memilih jalan kedua.
Ia meninggalkan Harvard Business Schoolโsalah satu kampus bisnis paling bergengsi di duniaโuntuk pulang ke Indonesia dan membangun sebuah perusahaan yang saat itu bahkan belum memiliki nama besar, investor, ataupun kepastian akan berhasil.
Hari ini, keputusan itu melahirkan Traveloka, perusahaan teknologi perjalanan yang berkembang menjadi salah satu unicorn terbesar di Asia Tenggara dengan valuasi sekitar US$3 miliar.
Namun semua itu tidak dimulai dari mimpi menjadi miliarder.
Semuanya berawal dari satu pertanyaan sederhana.
“Kenapa memesan tiket pesawat harus sesulit ini?”
Masalah yang Dialami Sendiri
Saat kuliah di Boston, Ferry harus beberapa kali pulang ke Indonesia untuk bertemu keluarga di Padang.
Setiap kali memesan tiket, prosesnya selalu rumit.
Informasi penerbangan tidak lengkap.
Website sulit digunakan.
Sebagian transaksi masih mengandalkan agen perjalanan konvensional.
Pengalaman itu membuatnya berpikir.
Kalau dirinya mengalami kesulitan yang sama berulang kali, berapa juta orang Indonesia yang juga mengalaminya?
Banyak entrepreneur mencari ide melalui riset pasar yang panjang.
Ferry menemukan peluang dari masalah yang ia alami sendiri.
Berani Meninggalkan Harvard
Keputusan meninggalkan Harvard tentu bukan keputusan yang mudah.
Banyak orang menganggapnya terlalu berisiko.
Namun Ferry memiliki keyakinan yang sederhana.
“Saya masih muda. Kalau harus gagal, lebih baik gagal sekarang daripada menyesal karena tidak pernah mencoba.”
Ia percaya peluang memiliki umur.
Semakin lama ditunda, semakin besar kemungkinan diambil orang lain.
Delapan Orang dan Banyak Penolakan
Awal perjalanan Traveloka jauh dari kisah glamor startup Silicon Valley.
Timnya hanya berisi sekitar delapan orang.
Kantornya sederhana.
Yang lebih berat lagi, hampir semua maskapai menolak bekerja sama.
Traveloka telah memiliki platform.
Namun tanpa maskapai, tidak ada tiket yang bisa dijual.
Ibarat membangun supermarket modern tanpa satu pun pemasok yang bersedia mengisi rak.
Banyak orang mungkin berhenti di titik itu.
Ferry memilih mengetuk pintu berikutnya.
Dan berikutnya lagi.
Sampai akhirnya kepercayaan mulai datang.
Investor Datang Setelah Ketekunan
Pada 2012, East Ventures memberikan pendanaan.
Setahun kemudian, Global Founders Capital ikut berinvestasi.
Kepercayaan tersebut bukan hadir karena keberuntungan.
Melainkan karena tim Traveloka terus membuktikan bahwa mereka sedang menyelesaikan masalah nyata yang dialami jutaan orang.
Pivot Terbesar
Saat bisnis mulai berjalan, kebanyakan founder akan memilih bermain aman.
Namun Ferry justru mengambil keputusan yang jauh lebih berani.
Traveloka awalnya hanya berfungsi sebagai metasearch, yaitu membantu pengguna membandingkan harga tiket.
Pada 2013, model bisnis itu diubah total menjadi Online Travel Agency (OTA) yang memungkinkan seluruh transaksi dilakukan langsung di dalam platform.
Keputusan ini berarti membangun ulang sistem pembayaran, operasional, hingga layanan pelanggan.
Risikonya sangat besar.
Namun Ferry melihat sesuatu yang belum dipahami banyak pesaing.
Masalah pelanggan bukan sekadar menemukan tiket termurah.
Masalah terbesar adalah pengalaman membeli tiket yang mudah, cepat, dan nyaman dari awal hingga selesai.
Traveloka memilih menyelesaikan masalah yang lebih besar.
Selalu Duduk di Kursi Pelanggan
Salah satu kebiasaan Ferry yang jarang disorot adalah caranya mengevaluasi produk.
Ia tidak hanya melihat laporan penjualan.
Ia mencoba menjadi pengguna.
Lalu bertanya pada dirinya sendiri.
“Bagian mana yang paling menyulitkan pelanggan?”
Pertanyaan sederhana itu melahirkan banyak inovasi.
Karena sering kali, peluang terbesar tersembunyi di balik pengalaman pelanggan yang paling menyebalkan.
Pelajaran Besar
Keberhasilan Traveloka bukan semata karena teknologi.
Bukan pula karena Ferry berasal dari Harvard.
Yang membedakannya adalah dua kebiasaan yang dijaga secara konsisten.
Pertama, membaca kebutuhan pengguna lebih cepat daripada kompetitor.
Kedua, berani mengubah arah ketika model lama tidak lagi cukup menyelesaikan masalah pelanggan.
Kemampuan melakukan pivot pada waktu yang tepat menjadi salah satu alasan mengapa Traveloka mampu tumbuh menjadi perusahaan teknologi berskala regional.

Penutup
Hari ini, Traveloka beroperasi di Indonesia, Malaysia, Singapura, Thailand, Vietnam, dan Filipina.
Melayani jutaan pengguna setiap hari.
Namun semua itu bermula dari seorang mahasiswa berusia 23 tahun yang memilih meninggalkan jalan paling aman demi mengejar peluang yang belum tentu berhasil.
Kisah Ferry Unardi mengingatkan kita bahwa ide besar sering kali lahir dari masalah yang kita alami sendiri.
Dan terkadang, keputusan paling berani bukanlah mempertahankan apa yang sudah ada.
Melainkan berani berubah sebelum keadaan memaksa kita berubah.
Karena pada akhirnya, peluang tidak menunggu.
Pertanyaannya bukan lagi apakah peluang itu ada.
Melainkan apakah kita cukup berani untuk bangkit dari kursi, melihat dari sudut pandang pelanggan, lalu mengambil langkah pertama sebelum orang lain melakukannya.
Pulau Garam Media
“Mengangkat inspirasi, strategi, dan wawasan bisnis untuk mendorong lahirnya wirausaha yang bertumbuh melalui sistem, inovasi, dan eksekusi.”















Leave a Reply