“‘Digugat ZARA, Elzatta Tetap Jalan Terus Belajar dari founder El Zatta”

Digugat ZARA, Elzatta Tetap Jalan Terus: Belajar dari Founder El Zatta

Pelajaran Bisnis dari Elidawati, Pendiri Elzatta: Menyelesaikan Masalah Tanpa Menghentikan Perjalanan

Ada sebuah momen yang menjadi mimpi buruk bagi hampir setiap pemilik bisnis.

Bayangkan Anda baru saja meluncurkan merek yang dibangun dengan penuh harapan. Produk sudah siap. Modal sudah keluar. Strategi pemasaran telah disusun.

Namun yang datang bukan pelanggan pertama.

Melainkan surat somasi.

Bukan dari pesaing kecil.

Tetapi dari salah satu merek fashion terbesar di dunia.

Banyak orang mungkin akan langsung menghentikan semuanya. Menarik produk dari pasar. Menunggu masalah selesai. Baru kemudian berani melanjutkan bisnis.

Tetapi tidak demikian dengan Elidawati.

Alih-alih menghentikan langkah, ia memilih memperbaiki arah sambil terus berjalan.

Keputusan sederhana itu kemudian menjadi salah satu fondasi yang membawa Elzatta tumbuh menjadi jaringan busana muslim dengan ratusan toko di Indonesia.

Dan mungkin, di situlah letak pelajaran bisnis yang paling berharga.


Masalah Tidak Selalu Harus Menghentikan Perjalanan

Ketika merek Zatta mendapat keberatan hukum karena dianggap terlalu mirip dengan ZARA, Elidawati tidak menghabiskan seluruh energinya untuk berhenti dan menunggu.

Ia mengambil langkah yang cepat sekaligus rasional.

Nama merek diubah menjadi Elzatta, dengan menambahkan awalan “El” yang berasal dari namanya sendiri.

Proses hukum tetap dihadapi.

Tetapi bisnis tidak berhenti.

Produksi tetap berjalan.

Distribusi tetap berlangsung.

Pelanggan tetap dilayani.

Keputusan ini mencerminkan sebuah prinsip penting dalam dunia bisnis:

Masalah harus diselesaikan, tetapi roda bisnis tidak boleh berhenti berputar.

Banyak usaha justru mati bukan karena masalahnya terlalu besar, melainkan karena pemiliknya menghentikan seluruh aktivitas sambil menunggu semua persoalan selesai.

Padahal dalam praktiknya, bisnis selalu berjalan berdampingan dengan tantangan.


Dua Puluh Tahun Menjadi Murid Sebelum Menjadi Pendiri

Di era media sosial, banyak orang ingin segera menjadi founder.

Sedikit yang ingin menjadi pembelajar.

Elidawati memilih jalan yang berbeda.

Sebelum mendirikan Elzatta, ia menghabiskan lebih dari 20 tahun bekerja dan membangun bisnis milik orang lain di industri busana muslim.

Selama dua dekade itu, ia belajar memahami pelanggan, produksi, distribusi, pemasaran, hingga operasional.

Ia tidak sekadar bekerja.

Ia sedang membangun modal yang tidak terlihat: pengalaman.

Ketika akhirnya mendirikan bisnis sendiri, ia tidak memulai dari nol.

Ia memulai dari akumulasi ribuan jam pembelajaran yang telah ditempuh selama bertahun-tahun.

Inilah investasi yang sering diabaikan banyak calon pengusaha.

Ilmu yang matang sering kali lebih berharga daripada modal yang besar.


Kesempatan Besar Sering Bersembunyi di Celah yang Diabaikan

Pada masa itu, sebagian besar merek busana muslim menjadikan hijab hanya sebagai produk pelengkap.

Fokus utama tetap pada pakaian.

Elidawati melihat sesuatu yang berbeda.

Bagaimana jika hijab justru dijadikan produk utama?

Bagaimana jika kualitasnya ditingkatkan?

Bagaimana jika mereknya dibangun secara serius?

Ia tidak mengikuti pasar.

Ia menemukan ruang kosong yang belum banyak diisi.

Di dunia strategi bisnis, inilah yang disebut market positioning.

Perusahaan besar sering bertumbuh bukan karena masuk ke pasar terbesar, tetapi karena menemukan ceruk yang belum digarap secara maksimal.


Pemasaran Tidak Harus Berteriak Paling Keras

Saat banyak merek berlomba menggunakan artis terkenal sebagai duta produk, Elzatta memilih pendekatan berbeda.

Mereka menjadi sponsor properti dalam sinetron religi Tukang Bubur Naik Haji.

Setiap hari jutaan keluarga melihat produk mereka secara alami.

Tanpa terasa seperti iklan.

Tanpa memaksa.

Tanpa berteriak.

Ini menunjukkan bahwa strategi pemasaran yang efektif bukan selalu tentang anggaran terbesar.

Tetapi tentang menemukan saluran komunikasi yang paling relevan dengan target pasar.


Pandemi Menguji Kekuatan Sistem

Tahun 2020 menjadi titik paling berat.

Pendapatan turun hingga sekitar 70 persen.

Banyak toko harus ditutup.

Aset dijual.

Efisiensi besar-besaran dilakukan.

Bahkan pengurangan karyawan menjadi keputusan yang sulit dihindari.

Di titik seperti itu, banyak bisnis memilih bertahan dengan cara lama sambil berharap keadaan segera membaik.

Elzatta memilih langkah yang berbeda.

Mereka mempercepat transformasi digital.

Penjualan online menjadi fokus utama.

Bukan sekadar tambahan.

Tetapi menjadi strategi utama.

Krisis sering kali memaksa perusahaan mengambil keputusan yang sebelumnya terus ditunda.

Dan bagi perusahaan yang mampu bergerak cepat, krisis justru menjadi momentum perubahan.


Bisnis Tidak Bisa Tumbuh Jika Semua Bergantung pada Pemilik

Hari ini Elzatta memiliki ratusan toko di lebih dari seratus kota.

Mustahil satu orang mengawasi semuanya.

Karena itu sejak awal Elidawati membangun sistem kemitraan.

Banyak pengusaha bergabung sebagai mitra.

Mereka menjalankan toko dengan standar yang sama.

Sistem yang sama.

Merek yang sama.

Inilah yang membuat bisnis dapat berkembang jauh melampaui kapasitas satu orang.

Dalam manajemen modern, pertumbuhan bukan terjadi ketika pemilik bekerja lebih keras.

Pertumbuhan terjadi ketika sistem mampu bekerja secara konsisten melalui banyak orang.

Ilustrasi bisnis tentang Elzatta yang tetap berkembang meski menghadapi gugatan merek dagang, menggambarkan ketangguhan founder dalam membangun bisnis melalui adaptasi, sistem, dan strategi pertumbuhan.

Pelajaran untuk Setiap Pemilik UMKM

Kisah Elzatta bukan sekadar cerita tentang industri busana muslim.

Ini adalah cerita tentang cara berpikir seorang pengusaha.

Ada tiga pelajaran penting yang bisa diterapkan di hampir semua jenis usaha.

Pertama, jangan menunggu semua masalah selesai baru mulai bergerak. Perbaiki sambil berjalan.

Kedua, jangan terburu-buru membangun nama jika fondasi ilmu belum cukup kuat. Pengalaman adalah investasi jangka panjang yang nilainya sering kali baru terlihat ketika krisis datang.

Ketiga, bangun sistem sejak awal. Bisnis yang seluruh operasionalnya bergantung pada pemilik akan sulit bertumbuh. Sebaliknya, bisnis yang memiliki SOP, standar kerja, dan sistem kemitraan yang jelas akan lebih mudah berkembang secara berkelanjutan.


Pertanyaan untuk Diri Sendiri

Coba jawab pertanyaan sederhana ini.

Jika besok Anda harus meninggalkan bisnis selama satu bulan, apakah usaha Anda tetap berjalan dengan kualitas yang sama?

Jika jawabannya “tidak”, kemungkinan masalahnya bukan pada produk, bukan pada pasar, bahkan bukan pada tim.

Masalahnya ada pada sistem yang belum dibangun.

Dan kabar baiknya, sistem tidak lahir dalam semalam.

Ia dibangun sedikit demi sedikit, melalui kebiasaan mendokumentasikan proses, menetapkan standar, melatih tim, dan terus melakukan perbaikan.

Karena pada akhirnya, bisnis besar bukanlah bisnis yang bebas dari masalah. Bisnis besar adalah bisnis yang mampu menyelesaikan masalah tanpa menghentikan perjalanan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *