Di dunia bisnis, banyak orang berpikir bahwa kegagalan terjadi karena produk yang kurang bagus atau pasar yang tidak mendukung. Namun kenyataannya, tidak sedikit usaha yang justru tumbang ketika sedang bertumbuh.
Cerita perjalanan d’Besto dan Lazatto menjadi salah satu contoh nyata bahwa pertumbuhan tanpa fondasi keuangan yang kuat dapat menjadi ancaman terbesar bagi sebuah bisnis.
Dari Gerobak Ayam Goreng ke Bisnis yang Berkembang Pesat
Perjalanan ini bermula pada tahun 1994 ketika pasangan dokter hewan, drh. H. Setyajid dan drh. Hj. Evalinda Amir, mendirikan Kentuku Fried Chicken atau KuFC.
Berbekal pengalaman berwirausaha dan ketekunan meracik resep sendiri selama hampir satu tahun, usaha ayam goreng mereka berkembang cukup cepat. Pada masanya, omzet jutaan rupiah per hari merupakan pencapaian yang sangat besar bagi bisnis kaki lima.
Kesuksesan awal tersebut membuat ekspansi dilakukan secara agresif. Cabang bertambah, aktivitas usaha meningkat, dan bisnis terlihat terus tumbuh.
Namun di balik pertumbuhan itu, ada satu hal penting yang terabaikan: dana cadangan.
Ketika Krisis Datang, Semua Berubah
Krisis moneter 1998 menjadi ujian yang tidak mampu mereka hadapi.
Bisnis yang sebelumnya berkembang pesat mengalami guncangan hebat. Tanpa cadangan keuangan yang memadai, usaha tersebut akhirnya bangkrut dan meninggalkan utang puluhan juta rupiah.
Pelajaran penting muncul di sini:
Masalah terbesar sering kali bukan kurangnya penjualan, melainkan tidak adanya perlindungan saat keadaan berubah.
Banyak bisnis fokus mengejar pertumbuhan, tetapi lupa membangun ketahanan.
Padahal dalam dunia usaha, krisis bukan pertanyaan “apakah akan datang”, melainkan “kapan akan datang”.
Bangkit dari Nol Bukan dengan Semangat Saja
Setelah mengalami kebangkrutan, pasangan ini tidak menyerah.
Mereka memulai kembali dari bawah. Menjual kue, mencari modal, hingga kembali berjualan ayam goreng dengan jumlah yang sangat terbatas.
Yang membedakan kebangkitan mereka bukan sekadar keberanian untuk memulai lagi.
Mereka memperbaiki sistem.
Mereka belajar dari kesalahan masa lalu, mengelola bisnis dengan lebih disiplin, lebih berhati-hati dalam ekspansi, dan lebih memperhatikan kesehatan keuangan usaha.
Dari hanya beberapa ekor ayam per hari, usaha tersebut kembali tumbuh secara bertahap hingga mampu mempekerjakan karyawan dan memperluas jaringan bisnis.
Ketika Nama Harus Berubah Demi Masa Depan
Tantangan berikutnya datang bukan dari keuangan, tetapi dari identitas merek.
Setelah bertahun-tahun menggunakan nama KuFC, mereka harus melakukan rebranding karena persoalan hak merek yang dianggap terlalu mirip dengan KFC.
Banyak pemilik usaha menganggap nama sebagai sesuatu yang tidak boleh disentuh.
Namun mereka mengambil keputusan yang berbeda.
Mereka rela melepaskan nama lama demi keberlangsungan bisnis jangka panjang.
Lahir lah merek d’Besto, yang kemudian berkembang menjadi jaringan kemitraan modern dan menjadi fondasi lahirnya berbagai lini usaha, termasuk Lazatto.
Keputusan tersebut menunjukkan bahwa terkadang mempertahankan bisnis jauh lebih penting daripada mempertahankan ego.
Tiga Pelajaran Besar untuk Pelaku Usaha
1. Pertumbuhan Tanpa Cadangan Keuangan Adalah Risiko
Ekspansi memang penting, tetapi dana cadangan jauh lebih penting.
Bisnis yang sehat bukan hanya yang mampu tumbuh cepat, tetapi juga yang mampu bertahan ketika kondisi berubah.
2. Bangkit Harus Disertai Perbaikan Sistem
Kegagalan tidak akan menghasilkan hasil berbeda jika cara kerjanya tetap sama.
Semangat diperlukan, tetapi sistemlah yang menentukan keberlanjutan.
3. Jangan Takut Berubah Demi Masa Depan
Pasar berubah. Regulasi berubah. Persaingan berubah.
Bisnis yang mampu bertahan biasanya bukan yang paling besar, melainkan yang paling adaptif.

Kesimpulan
Kisah d’Besto dan Lazatto bukan sekadar cerita tentang ayam goreng.
Ini adalah cerita tentang ketahanan, pembelajaran, dan keberanian untuk berubah.
Mereka pernah bangkrut, terlilit utang, memulai kembali dari nol, hingga akhirnya membangun jaringan usaha dengan ratusan mitra.
Pelajaran terbesarnya sederhana:
Bisnis tidak hancur karena satu kesalahan. Bisnis hancur ketika pemiliknya tidak mau belajar dari kesalahan tersebut.
Dan sering kali, fondasi yang menyelamatkan bisnis bukanlah pertumbuhan yang cepat, melainkan sistem yang kuat dan kesiapan menghadapi masa sulit.















Leave a Reply