Ada minuman yang kita beli karena haus.
Ada minuman yang kita pilih karena sedang tren.
Tetapi ada pula minuman yang baru sekali menyentuh lidah, lalu tiba-tiba membuat seseorang berkata:
“Lho… ini seperti Es Gonjor dulu.”
Kalimat itu sederhana. Namun sebenarnya ada sesuatu yang jauh lebih dalam sedang terjadi.
Bukan sekadar lidah yang mengenali rasa.
Ingatan sedang bekerja.
Dan dari titik itulah cerita antara Es Gonjor dan Es Jadul Kompeni menjadi menarik.
Es Gonjor: Sederhana, tetapi Membekas
Es Gonjor bukan minuman yang membutuhkan bahan rumit untuk dikenang.
Dalam penggunaan lokal, termasuk yang ditemukan pada daftar menu kuliner di Bangkalan, istilah Es Setrup/Gonjor digunakan untuk minuman dengan kombinasi sederhana seperti sirup, santan, dan es serut.
Manis.
Gurih.
Dingin.
Sederhana sekali.
Tetapi justru kesederhanaan semacam inilah yang dahulu begitu dekat dengan kehidupan masyarakat.
Sebelum minuman kekinian datang dengan berbagai topping, krim, boba, cheese foam, dan nama-nama asing, segelas minuman dingin sederhana sudah cukup menjadi kemewahan kecil pada hari yang panas.
Es semacam ini hadir di tengah kehidupan sehari-hari.
Di warung.
Di pasar.
Di sekitar sekolah.
Di meja makan keluarga.
Atau mungkin dari tangan seseorang yang hari ini bahkan sudah tidak lagi bersama kita.
Karena itu, bagi sebagian orang, Es Gonjor bukan hanya tentang rasa.
Ia adalah sebuah periode kehidupan.
Mengapa Rasa Bisa Membawa Kita Kembali ke Masa Lalu?
Di sinilah ilmu pengetahuan memberikan penjelasan yang menarik.
Apa yang sehari-hari kita sebut sebagai “rasa” sebenarnya bukan hanya berasal dari lidah.
Pengalaman menikmati makanan dan minuman merupakan gabungan dari pengecapan, aroma, temperatur, tekstur, bahkan pengalaman sebelumnya.
Penciuman memiliki hubungan yang sangat kuat dengan sistem otak yang terlibat dalam emosi dan pembentukan memori.
Struktur seperti amigdala berperan penting dalam pemrosesan emosi, sementara hippocampus sangat berkaitan dengan pembentukan dan pengambilan kembali memori.
Karena itulah sebuah aroma atau karakter rasa tertentu terkadang mampu memunculkan kenangan autobiografis dengan sangat kuat.
Fenomena semacam ini sering dikaitkan dengan apa yang dikenal sebagai Proust effect: ketika aroma atau sensasi rasa menjadi pemicu munculnya kembali kenangan masa lalu.
Menariknya, kita bahkan tidak selalu mampu menjelaskan kenangan itu secara langsung.
Kita mungkin lupa nama warungnya.
Lupa tahun berapa.
Lupa berapa harganya.
Lupa siapa yang membelikannya.
Tetapi ketika rasa tertentu kembali hadir…
kita tahu bahwa kita pernah berada di sana.
Lalu Hadirlah Es Jadul Kompeni
Di tengah dunia minuman yang semakin sibuk mengejar sesuatu yang baru, Es Jadul Kompeni memilih melihat ke belakang.
Bukan karena ingin hidup di masa lalu.
Tetapi karena ada sesuatu dari masa lalu yang rasanya terlalu berharga untuk dibiarkan menghilang.
4
Es Jadul Kompeni mengangkat semangat Minuman Klasik Indonesia dengan satu gagasan sederhana:
Yang lama tidak selalu harus diganti.
Terkadang ia hanya perlu diperkenalkan kembali.
Maka ketika Es Jadul Kompeni dinikmati dan sebagian orang spontan mengenalinya sebagai Es Gonjor, respons tersebut justru menjadi sesuatu yang menarik.
Karena ternyata lidah masyarakat masih mengingatnya.
“Oh, Ini Es Gonjor Ya?”
Pertanyaan ini tidak perlu dijawab dengan penyangkalan.
Tidak perlu mengatakan:
“Bukan. Ini Es Jadul Kompeni.”
Sebab Es Gonjor telah hidup lebih dahulu sebagai bagian dari pengetahuan dan pengalaman masyarakat.
Jawaban yang jauh lebih bermakna adalah:
“Iya, terinspirasi dari Es Gonjor tempo dulu. Kami hadirkan kembali dengan racikan khas dan kami beri nama Es Jadul Kompeni.”
Kalimat tersebut menghormati dua hal sekaligus.
Akar tradisinya tidak dihapus. Identitas barunya juga tetap berdiri.
Es Jadul Kompeni tidak perlu mengklaim menemukan sebuah rasa yang belum pernah ada.
Justru kekuatan ceritanya berada pada keberanian untuk mengatakan:
rasa ini memiliki masa lalu.
Kita Hidup di Zaman yang Terobsesi dengan Sesuatu yang Baru
Setiap beberapa bulan muncul minuman baru.
Topping baru.
Kemasan baru.
Nama baru.
Tren datang dengan sangat cepat, menjadi viral, kemudian perlahan digantikan tren berikutnya.
Tetapi ada sebuah paradoks dalam perilaku manusia.
Semakin cepat dunia bergerak, terkadang semakin kuat keinginan manusia untuk kembali kepada sesuatu yang familiar.
Dalam kajian perilaku konsumen, nostalgia memang telah lama menjadi tema penting. Pengalaman masa lalu dapat memengaruhi respons emosional terhadap produk, merek, musik, aroma, makanan, hingga desain.
Sebab manusia tidak mengonsumsi produk hanya berdasarkan fungsi.
Kita juga mengonsumsi makna.
Segelas minuman bisa bernilai beberapa ribu rupiah.
Tetapi kenangan yang dibangkitkannya tidak memiliki harga yang sama.
Es Gonjor Adalah Akar, Es Jadul Kompeni Adalah Cerita Berikutnya
Di sinilah keduanya tidak perlu dipertentangkan.
Es Gonjor adalah bagian dari ingatan kuliner masyarakat.
Sementara Es Jadul Kompeni hadir dengan semangat membawa karakter minuman klasik tersebut ke generasi hari ini.
Seseorang yang pernah mengenalnya mungkin akan berkata:
“Ini Es Gonjor.”
Sementara seorang anak yang belum pernah mendengar nama Gonjor mungkin suatu hari berkata:
“Aku mau Es Jadul Kompeni.”
Dua generasi.
Dua nama yang mereka kenal.
Tetapi mungkin ada sebuah pengalaman rasa yang menghubungkan keduanya.

Jangan Biarkan Rasa Lama Mati Bersama Generasinya
Warisan kuliner tidak selalu berupa makanan besar dengan sejarah yang tertulis rapi dalam buku.
Kadang warisan itu sangat sederhana.
Hanya segelas es.
Sebuah aroma.
Satu resep keluarga.
Atau rasa yang diwariskan dari mulut ke mulut tanpa pernah diketahui siapa pencipta pertamanya.
Dan justru warisan seperti inilah yang paling mudah hilang.
Bukan karena rasanya tidak enak.
Tetapi karena generasi berikutnya tidak pernah diperkenalkan kepadanya.
Bayangkan suatu hari seorang ayah membeli Es Jadul Kompeni bersama anaknya.
Ia mencicipinya.
Berhenti sebentar.
Kemudian tersenyum dan berkata:
“Dulu, waktu Bapak masih kecil, minuman seperti ini dikenal sebagai Es Gonjor.”
Anaknya mungkin tidak memahami mengapa ayahnya begitu bersemangat menceritakannya.
Tetapi dua puluh tahun kemudian, ketika anak itu menemukan rasa yang sama…
mungkin giliran dia yang teringat kepada ayahnya.
Begitulah sebuah rasa diwariskan.
Bukan melalui buku sejarah.
Tetapi melalui manusia.
Segelas Kenangan
Pada akhirnya, Es Jadul Kompeni tidak harus menjadi minuman yang menghapus Es Gonjor.
Justru sebaliknya.
Biarkan nama Es Gonjor tetap hidup sebagai bagian dari memori masyarakat.
Biarkan orang yang mengenalnya tersenyum dan berkata:
“Saya tahu rasa ini.”
Sebab mungkin keberhasilan terbesar sebuah minuman nostalgia bukan ketika seseorang mengatakan bahwa rasanya benar-benar baru.
Tetapi ketika tegukan pertamanya membuat seseorang diam beberapa detik…
kemudian berkata:
“Rasa seperti ini… mengingatkan saya waktu kecil.”
Karena ternyata manusia tidak selalu membutuhkan rasa baru.
Kadang kita hanya sedang mencari jalan pulang menuju rasa yang pernah membuat kita bahagia.
ES JADUL KOMPENI
Minuman Klasik Indonesia
Terinspirasi dari rasa-rasa yang telah lebih dahulu hidup di tengah masyarakat.








Leave a Reply