Kalimat “Orang Indonesia malas membaca” sudah begitu sering diucapkan hingga terdengar seperti sebuah kebenaran mutlak.
Setiap kali seseorang tidak membaca buku, kita langsung menyimpulkan bahwa budaya literasi di negeri ini rendah. Setiap kali toko buku sepi, muncul komentar bahwa masyarakat kita memang tidak suka membaca.
Namun, benarkah persoalannya sesederhana itu?
Kalau kita melihat data dan realitas di lapangan, jawabannya ternyata jauh lebih kompleks.
Pro: Memang Ada Masalah Literasi yang Perlu Diakui
Tidak adil jika kita mengatakan tidak ada masalah.
Hasil PISA 2022 menunjukkan kemampuan literasi membaca siswa Indonesia masih berada di bawah rata-rata negara-negara OECD. Banyak peserta didik masih kesulitan memahami, menganalisis, dan menarik kesimpulan dari sebuah bacaan yang cukup panjang.
Fenomena ini juga tercermin dalam dunia kerja.
Tidak sedikit perusahaan yang menemukan karyawan kesulitan memahami SOP, membaca laporan, atau mengikuti instruksi tertulis secara lengkap. Akibatnya, kesalahan operasional sering kali bukan disebabkan oleh kurangnya kemampuan teknis, melainkan karena informasi yang sebenarnya sudah tersedia tidak dibaca dengan saksama.
Dalam bisnis UMKM pun demikian.
Ada pemilik usaha yang rela menghabiskan puluhan juta rupiah untuk renovasi toko, tetapi enggan meluangkan waktu tiga puluh menit membaca panduan tentang pengelolaan keuangan, pelayanan pelanggan, atau strategi pemasaran.
Kalau melihat fakta ini, wajar jika muncul anggapan bahwa budaya membaca memang masih menjadi pekerjaan rumah besar.
Kontra: Tapi Benarkah Orang Indonesia Tidak Suka Membaca?
Di sisi lain, mari kita lihat kehidupan sehari-hari.
Berapa lama rata-rata orang memegang ponsel setiap hari?
Banyak yang menghabiskan tiga hingga delapan jam di depan layar.
Selama itu, apa yang mereka lakukan?
Mereka membaca.
Membaca percakapan WhatsApp.
Membaca komentar media sosial.
Membaca caption Instagram.
Membaca berita.
Membaca ulasan produk.
Membaca deskripsi marketplace.
Membaca thread.
Membaca notifikasi.
Artinya, masyarakat Indonesia sebenarnya membaca setiap hari.
Masalahnya bukan tidak membaca, tetapi apa yang dibaca dan seberapa dalam mereka membacanya.
Inilah yang oleh banyak peneliti disebut sebagai pergeseran dari deep reading menuju surface reading.
Kita terbiasa mengonsumsi informasi yang cepat, singkat, dan instan.
Sementara membaca buku, jurnal, laporan, atau artikel panjang membutuhkan konsentrasi yang jauh lebih tinggi.
Dunia Digital Mengubah Cara Kita Belajar
Perubahan ini sebenarnya bukan hanya terjadi di Indonesia.
Hampir seluruh dunia mengalami hal yang sama.
Media sosial dirancang agar perhatian manusia terus berpindah dari satu konten ke konten berikutnya.
Akibatnya, otak menjadi terbiasa menerima informasi dalam potongan-potongan pendek.
Bukan berarti masyarakat menjadi lebih bodoh.
Namun, kemampuan untuk bertahan membaca sebuah tulisan panjang memang semakin menurun jika tidak terus dilatih.
Lalu Bagaimana dengan Pelaku Bisnis?
Fenomena ini menarik jika dikaitkan dengan pemasaran.
Banyak pemilik bisnis mengeluh:
“Orang sekarang malas baca.”
Lalu semua konten dibuat sesingkat mungkin.
Padahal, kenyataannya tidak selalu demikian.
Orang tetap bersedia membaca panjang jika isi tulisannya benar-benar relevan dengan masalah yang sedang mereka hadapi.
Buktinya?
Artikel tentang kisah sukses bisnis, strategi pemasaran, pengalaman pengusaha, hingga studi kasus sering dibaca sampai selesai jika mampu membuat pembaca merasa,
“Ini masalah yang sedang saya alami.”
Jadi yang menentukan bukan semata-mata panjang pendeknya tulisan.
Tetapi nilai yang diterima pembaca.
Pelajaran yang Saya Rasakan Saat Menulis
Inilah salah satu alasan mengapa saya membangun PulauGaram.com.
Bukan karena merasa sudah paling paham tentang bisnis.
Justru karena saya masih terus belajar.
Saya mencoba merangkum buku, riset, pengalaman pelaku usaha, dan kisah-kisah bisnis menjadi artikel yang lebih sederhana, lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari, dan mudah dipahami oleh pelaku UMKM.
Saya percaya banyak orang sebenarnya ingin belajar.
Mereka hanya tidak ingin dipaksa membaca tulisan yang rumit.
Kalau sebuah artikel mampu menjawab pertanyaan yang sedang ada di kepala mereka, mereka akan meluangkan waktu untuk membacanya sampai selesai.

Jadi, Apakah Orang Indonesia Malas Membaca?
Menurut saya, jawabannya bukan “ya” atau “tidak.”
Yang lebih tepat adalah:
Budaya membaca mendalam kita masih perlu diperkuat.
Bukan karena masyarakat tidak mau belajar.
Tetapi karena dunia digital telah mengubah cara manusia mengonsumsi informasi.
Tugas penulis, pendidik, media, dan pelaku bisnis bukan sekadar mengeluh bahwa orang malas membaca.
Tugas kita adalah menyajikan pengetahuan dengan cara yang lebih relevan, lebih mudah dipahami, dan lebih bermakna.
Karena pada akhirnya, orang tidak akan membaca sesuatu hanya karena tulisannya panjang.
Mereka akan membaca sampai selesai ketika merasa tulisan itu mampu membantu mereka mengambil keputusan yang lebih baik, menghindari kesalahan yang mahal, atau melihat peluang yang sebelumnya tidak mereka sadari.
Mungkin persoalannya bukan bahwa orang Indonesia malas membaca.
Mungkin kita semua sedang belajar menemukan cara membaca yang kembali membuat kita bertumbuh, bukan sekadar menambah informasi.











Leave a Reply